BILA DITOLAK DAN DILUKAI

Spread the love

Bahan Khotbah Minggu, 10 Juni 2018

Nas Khotbah : Markus 3:20-35

Tema : BILA DITOLAK DAN DILUKAI

 

  1. PENDAHULUAN

Pelayanan Tuhan Yesus selalu mengesankan banyak orang yang mendengar dan melihatnya. Biasanya, ada beberapa hal yang menjadikan pelayanan Tuhan Yesus menarik perhatian banyak orang, yaitu:

(a) Ia mengasihi mereka,

(b) Ia memenuhi kebutuhan mereka,

(c) Ia mengajar dengan cara yang menarik dan praktis.

Namun di tengah-tengah pelayanan Tuhan Yesus yang cukup mengesankan itu, ternyata ada saja yang menolak dan berusaha menjatuhkan-Nya dengan mencari-cari kesalahan. Dalam Markus 3:20-35, terlihat bahwa selain orang Farisi dan para ahli Taurat yang selalu menjebak Tuhan Yesus, tantangan juga datang dari keluarga-Nya. Mereka menganggap Tuhan Yesus sudah tidak waras lagi (Markus 3:21). Dan oleh karena itu, mereka bermaksud untuk mengambil Tuhan Yesus, meskipun dengan cara paksa.

  1. PENJELASAN/ISI

Dalam Markus 3:20-35, dikisahkan bahwa ibu dan saudara-saudara Tuhan Yesus sengaja datang ke tempat dimana Tuhan Yesus sedang mengajar dan dikelilingi orang banyak. Namun oleh karena begitu banyaknya orang yang mengerumuni Tuhan, maka mereka hanya berada di luar. Lalu mereka menyuruh seseorang untuk memanggil Tuhan Yesus, dengan memberitahukan tentang kedatangan mereka. Tujuan mereka hendak membawa Tuhan Yesus pulang disebabkan anggapan mereka akan tindakan Tuhan Yesus dianggap telah menyimpang dari kelaziman. Tetapi, Tuhan Yesus memberi tanggapan atas penjemputan itu dengan berkata, “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?” (ay. 33). perkataan Tuhan Yesus dalam ay. 33 tadi menunjukkan munculnya perasaan memilki yang buta secara fisik dalam hati ibu dan saudara-saudara Tuhan akan diri Tuhan Yesus. Ketika Tuhan Yesus mulai banyak dikenal dalam masyarakat Yahudi sebagai pengajar dan penyembuh sehingga banyak orang yang datang kepada-Nya, maka mucullah perasaan tersebut di dalam hati mereka. Sebab bagaimana tidak, kemana pun Tuhan Yesus pergi, orang banyak selalu mengikuti-Nya. Situasi ini mungkin dimanfaatkan oleh ibu dan saudara-saudara-Nya untuk menunjukkan bahwa mereka lebih berhak atas diri Tuhan Yesus. Sehingga untuk berjumpa dengan-Nya, ibu dan saudara-saudara-Nya menyuruh orang lain untuk memanggil Tuhan, dengan harapan Ia akan lebih memilih untuk memenuhi panggilan ibu dan saudara-Nya. Atau paling tidak Tuhan Yesus bisa menyuruh kerumunan orang banyak untuk membuka jalan bagi mereka. Tetapi mereka harus kecewa karena Tuhan Yesus tidak memperdulikan mereka. Bahkan Yesus berkata, “siapa ibu-Ku dan siapa saudara-Ku…..barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki dan saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku” (ay. 33-34)

Selain itu, dalam jawaban ini, Tuhan Yesus sepertinya mempertanyakan hubungan yang mengikat persaudaran terhadap diri-Nya. Secara lahiriah (darah dan daging) memang benar, bahwa Tuhan Yesus memiliki keluarga inti, yaitu ayah, ibu, serta saudara. Bahkan jika dirunut dari garis keturunan, Ia juga memiliki keluarga besar (marga). Hubungan demikian itu baik, tetapi Tuhan Yesus tidak ingin berhenti sekedar hubungan yang lahiriah itu. Sebaliknya Tuhan Yesus berkata: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Maksudnya, Tuhan Yesus menunjuk kepada orang-orang yang sedang mengelilingi-Nya, dan menyebut merekalah ibu dan saudara-Nya. Sekilas, apa yang dilakukan Tuhan Yesus ini merupakan sebuah penolakan, atau kesengajaan untuk tidak mengakui hubungan darah yang ada dengan keluarga-Nya (mis. cerita rakyat Malin Kundang). Namun, tujuan cerita ini sungguh berbeda. Kisah Malin Kundang adalah putusnya hubungan keluarga, antara seorang ibu dengan anak, yang dikarenakan rasa malu si anak untuk mengakui keberadaan ibunya, hingga akhirnya si anak menemui kebinasaan. Sedangkan kisah dalam ay. 31-35 hendak menaikkan hubungan keluarga menjadi lebih baik lagi, dan bertujuan untuk keselamatan. Tuhan Yesus ingin membawa setiap orang untuk meningkatkan ikatan persaudaraan, lebih yang selama ini dimengerti oleh manusia. Tuhan Yesus berkata, bahwa ibu dan saudara-Nya adalah orang-orang yang melakukan kehendak Allah. Artinya, bagi Tuhan Yesus tidak ada batasan persaudaraan, apakah itu hubungan darah, persahabatan, sekampung, atau seprofesi. Ukuran menjadi saudara bagi Tuhan Yesus adalah orang-orang yang mau dan rindu untuk melakukan kehendak Allah. Jadi, jelas bahwa batasan kekeluargaan tidaklah terbatas dalam pemahaman yang sempit saja.

Bagi Tuhan Yesus dan dalam kerajaan-Nya, ikatan darah tidak berlaku sebagaimana di dunia, tetapi yang menentukan ialah ikatan iman dan kasih kepada Allah. Namun hendaknya tidak dimengerti dalam konsep bahwa Tuhan Yesus tidak menghargai dan mengasihi Maria, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya. Tuhan Yesus mengasihi mereka. Tapi Tuhan Yesus mau mengatakan bahwa hubungan darah dan kekerabatan sangatlah terbatas dan mudah retak. Keinginan ibu Tuhan Yesus untuk bertemu anak-Nya adalah wajar. Tetapi di sisi lain, Tuhan Yesus mau menyatakan kebenaran sejati harus diberitakan. Hal yang utama bukanlah mengikuti kehendak jasmani tetapi yang rohani. Sehingga siapa yang melakukan kehendak Allah adalah saudara-Ku dan ibu-Ku. Iman dan kasih kepada Tuhan Yesus yang perlu dinyatakan dengan mencari kehendak Allah, dengan wujud mengasihi semua orang seperti kasih Tuhan kepada semua orang (bnd. Kolose 3:12-14). Bukan hanya kepada orang tertentu, bahkan kepada orang yang paling hina dan tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan kita. Sebab hal ini sama seperti kita melakukannya terhadap Tuhan. Karena kecenderungan aspek kekerabatan tetap menjadi pertimbangan dalam memutuskan siapa yang paling layak kita kasihi. Sehingga besar kemungkinan orang yang tidak sama dengan kita baik suku, agama, derajat, kelompok, dan lainya besar kemungkinan tidak masuk dalam daftar untuk kita kasihi. Bagian ini menjadi pelajaran yang sangat indah bagi kita. Jika Tuhan Yesus sudah menjadikan kita sebagai saudara-Nya dan masuk dalam keluarga Allah dengan tidak melihat latar belakang kita. Siapa pun bisa dan layak menjadi saudara Tuhan, keluarga Allah, karena Ia tidak memperhitungkan kelahiran secara jasmaniahtapi kelahiran secara rohaniah (1 Petrus 1:3). Maka hal ini dapat menjelaskan bahwa misi Tuhan Yesus adalah membentuk keluarga Allah yang meliputi semua orang, yaitu mereka yang melakukan kehendak Allah dan hidup saling mengasihi secara damai. Hubungan ini tidak lagi berdasarkan darah-daging, tetapi karena mau melakukan kehendak Allah, dan dasar atas segalanya adalah kematian dan kebangkitan Yesus yang mau melakukan kehendak Bapa-Nya. Mari bersama kita lakukan kehendak Allah agar kita disebut saudara oleh Yesus dan menjadi keluarga Allah yang hidup saling mengasihi tampa membedakan, seperti Yesus yang tidak pernah membedakan kita.

  1. KESIMPULAN/PESAN/AJAKAN
  • Penerapan Umum. Firman Tuhan ini memanggil kita untuk membaharui hubungan-hubungan kita menjadi lebih rohani. Kita hidup dalam kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran. Kita juga diingatkan memberi pengampunan meskipun berkali-kali menerima penolakan dan dilukai, sebab Kristus telah lebih dahulu memberi  pengampunan atas dosa-dosa kita.
  • Penerapan khusus. Secara khusus dalam Doa Bapa Kami, Tuhan Yesus berkata : “… seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami”. Kalimat ini kembali mengingatkan seluruh jemaat untuk menghidupkan hati dan melakukan kehendak Allah, sehingga  layak disebut sebagai saudara Yesus.
  • Penerapan PI. Pemberitaan Injil harus terus diberitakan meskipun berkali-kali menerima penolakan dan dilukai. Terhadap semua itu hendaknya tidak gampang menyerah. Tetaplah maju! Tetaplah beritakan Injil Tuhan yang berisi keselamatan. Amin.

—ES

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *