DALAM BADAI TUHAN BERTINDAK

Spread the love

Kotbah Minggu : 24 Juni 2018 (Minggu Biasa)              

Bacaan III : Markus 4:35-41 (Nas: Markus 4:39)

Tema   : DALAM BADAI TUHAN BERTINDAK

  • Pendahuluan: Kotbah dapat dimulai dengan mengangakat mengenai respon manusia saat menghadapi badai kehidupan. Badai kehidupan ibarat badai yang terjadi di lautan lepas atau di pinggir pantai. Ini untuk memberi gambaran suasana hati yang mungkin muncul takkala kita yang mengalaminya. Pada umumnya badai kehidupan menimbulkan ketakutan sekaligus kepanikan, mirip seperti murid-murid dalam bacaan Injil.

 

  •   Penjelasan Teks Leksionari:
  • Bacaan II: 2 Korintus 6:1-13. Tema bagian ini adalah pekerjaan para utusan Kristus dan penyerahan mereka kepada Allah. Dalam ayat 4 dan ayat berikutnya kita mendapat gambaran bagaimana Paulus hidup dan bekerja serta mengasihi orang-orang oleh karena ia mengasihi Yesus Kristus yang telah lebih dahulu mengasihi dia. Dalam ayat 4 dan 5 terdapat Sembilan kesukaran yang telah dialami oleh Paulus dalam pekerjaan Tuhan. Dalam ayat 6-7 terdapat Sembilan macam sifat dan karunia rohani dan dalam ayat 8 sampai 10 tedapat sembilan pasang pertentangan yang dikatakan orang-orang mengenai perangai dan kelakuan Paukus. Paulus belajar sabar dalam menghadapi kesusahan. Kesabaran tidak datang apabila segala sesuatu baik dan menyenangkan. Tetapi kesabaran sering datang pada saat kita menghadapi kesukaran, pencobaan dan kepicikan. Baik Tuhan Yesus maupun para rasul-Nya tidak pernah berjanji bahwa jalan salib adalah mudah, menyenangkan dan tanpa kesusahan. Akan tetapi Tuhan Yesus sendiri menjanjikan kemenangan kepada kita. tidak ada kesukaran yang bagaimanapun besarnya atau bagaimanapun lamanya kita tanggung dapat menceraikan kita dari kasih Kristus (Roma 8:35). Paulus berkata dalam pasal 11:24 bahwa ia telah 5 kali disesah orang Yahudi, dan setiap kali disesah ada 39 pukulan. Bagaimana ia dapat menanggung penderitaan itu dengan sabar? Tentu dengan berdoa dan menyanyikan pujian kepada Allah sebagai tanda kemenangan. Paulus sering dipenjarakan karena Injil Kristus. Ia sering menghadapi kerusuhan yang disebabkan oleh orang-orang Yahudi. Tambahan pula, Paulus sangat lelah lebih dari orang lain dalam pekerjaan Tuhan. Tetapi ia membesarkan hati orang Korintus dengan perkatan; “Sebab kamu tahu bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (1 Kor.15:58)..
  • Bacaan III: Markus 4:35-41. Bagian ini adalah tentang tentang angin ribut di Danau Galilea yang diteduhkan. Tuhan Yesus terkenal sebagai guru yang baik, tetapi dalam Injil Markus dinyatakan sebagai pekerja yang luar biasa. Mujizat yang pertama menunjukkan kuasa Tuhan Yesus atas alam. Dalam ayat 35 diceritakan bahwa pada petang hari Tuhan Yesus menyuruh murid-murid-Nya menyeberangi Danau Galilea. Pada hari itu Tuhan Yesus sangat sibuk menyembuhkan orang-orang sakit. Meskipun Ia mendapat banyak tantangan dan perlawanan, Ia terus memberikan pengajaran-pengajaran-Nya. Sesudah Ia merasa lelah, Ia tinggal bersama dengan murid-murid-Nya. Ia mengundurkan diri dari orang banyak itu dan Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Marilah kita bertolak ke seberang.” Ayat 36 menceritakan bahwa Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dengan segera. Tuhan Yesus merasa lelah (Ef.6:12). Ia harus mengundurkan diri untuk beristirahat. Ia hanya membawa berkata seadanya. Ia tidak membawa persediaan yang istimewa, misalnya makanan atau pakaian. Dari keterangan yang menceritakan bahwa ada perahu-perahu kecil yang lain, sehingga dapat disimpulkan bahwa danau teduh. Tetapi belum lama Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya berlayar, tiba-tiba datanglah taufan yang sangat dahsyat. Perahu mereka terpukul ombak sehingga hampir penuh dengan air. Menurut para penafsir, taufan semacam itu sering terjadi di Galilea. Angin yang demikian seolah-olah diisap oleh lembah-lembah yang mengelilingi danau itu. Rupanya angin taufan yang dialami Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya itu lebih hebat daripada yang biasa, terbukti dari keterangan mengenai perahu mereka yang hampir penuh dengan air dalam waktu yang sangat singkat. Tuhan Yesus tertidur di buritan perahu, yaitu bagian yang agak tinggi daripada bagian lain dalam perahu itu. Rupa-rupanya Ia sangat letih sehingga setelah mereka bertolak, Ia terus saja berbaring dan tertidur dengan lelapnya. Di sini kita dapat melihat kemanusiaan Tuhan Yesus yang sempurna. Sesudah menyelesaikan pekerjaan-Nya pada hari itu, Ia sangat lelah sehingga tidak bangun walaupun ada angin ribut dan gelombang besar. Murid-murid-Nya membangunkan Dia. Mereka segera menyalahkan Dia, sebab mereka mengira bahwa Tuhan Yesus tidak memperhatikan mereka yang hampir celaka itu. Sesungguhnya murid-murid yang dahulunya adalah para nelayan sudah biasa dengan keadaan Danau Galilea. Tetapi mengapa pada waktu itu mereka sangat takut hanya karena angin ribut dan ombak? Pertama, angin ribut tidak dapat membangunkan Tuhan Yesus, tetapi oleh karena murid-murid membutuhkan Dia, Ia segera bangun. Tuhan Yesus senantiasa siap sedia menolong orang yang berseru kepada-Nya. kedua, ketika murid-murid memanggil Tuhan Yesus mereka tidak berharap bahwa Ia akan meneduhkan danau itu. Murid-murid itu beranggapan bahwa mereka dan Tuhan Yesus akan binasa bersama-sama. Ini dapat kita lihat dari kata-kata “kita binasa”. Itulah sebabnya mereka menyalahkan Tuhan yang masih tertidur, sedang mereka semuanya akan binasa. Ketika murid-murid melihat betapa lelahnya Tuhan Yesus, dengan demikian melihat kemanusiaan-Nya, mereka tidak menyangka bahwa Ia berkuasa atas laut dan angin ribut. Alkitab mengatakan “Iapun bangun, Ia menghardik angin itu.” Pada peristiwa angin ribut itu Tuhan Yesus menganggap semua pekerjaan itu sebagai perbuatan si jahat dan penguasa kegelapan. Tuhan Yesus berkata “Diam!”, artinya hendaklah mulutmu terkekang seperti mulut anjing galak yang terkekang. Kata diam itu dipakai oleh Tuhan Yesus ketika Ia mengusir iblis. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa angin ribut itu adalah perbuatan iblis yang ingin membinasakan Tuhan Yesus. Mujizat ini sekali lagi menyatakan kuasa Tuhan Yesus atas iblis dan alam. Setelah Tuhan Yesus bersabda maka angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Biasanya setelah angin ribut berhenti, masih ada ombak selama beberapa jam. Tetapi pada saat itu air danau segera menjadi tenang. Kuasa dan pekerjaan Tuhan benar-benar ajaib. Lalu Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya? (ay.40). Perkataan Tuhan Yesus bukan merupakan suatu penghiburan, melainkan suatu teguran. Murid-murid tidak percaya dan kemudian mereka menjadi takut akan Tuhan Yesus. Memang murid-murid itu tidak percaya bahwa Tuhan Yesus akan meneduhkan danau itu. Kemudian mereka menjadi sangat takut akan Tuhan Yesus sehingga mereka berkata, “Siapa gerangan orang ini sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya? Lihatlah betapa besar kuasa Tuhan Yesus yang dinyatakan dalam mujizat ini. Kuasa itu ditujukan kepada danau dan murid-murid-Nya. mereka belum mengenal akan Tuhan mereka. Mereka belum menyadari akan kuasa-Nya. mereka belum mengenal akan cinta kasih-Nya dan mereka belum mengerti akan maksud-Nya. seandainya mereka itu sudah mengetahui semuanya, mereka seharusnya yakin bahwa tidak akan ada angin ribut yang dapat membinasakan Dia atau menggagalkan maksud-Nya. hendaklah kita juga mengetahui kebenaran itu. Kita harus tahu bahwa gereja Tuhan yang sudah didirikan-Nya itu akan selalu ada di dunia yang sedang bergoncang dan bergolak itu. Mungkin kita beranggapan bahwa Tuhan Yesus sedang tidur, tetapi ingatlah bahwa Ia tetap ada.  
  • Tujuan Tema: Jemaat menyadari bahwa hidup ini mungkin saja berhadapan dengan berbagai persoalan. Namun Allah sanggup bekerja di dalam badai tersebut untuk menyatakan kuasa-Nya kepada kita agar kita menaruh percaya (teguh beriman) kepada-Nya..

 

  • Penerapan Tema: Apa penerapan Firman Tuhan ini kepada konteks kehidupan kita saat ini?
  1. Keberadaan Tuhan Yesus di atas perahu bersama para murid merupakan simbol bahwa sesunguhnya Dia menyertai kita dan ada bersama-sama dengan kita. Tuhan pasti akan menyatakan kuasa-Nya. Badai kehidupan ternyata juga bisa menjadi kesempatan bagi orang percaya untuk menyaksikan kasih dan kuasa Allah melalui sikap hidup yang benar (Berikan Illustrasi).
  2. Realitas kehidupan mungkin saja diwarnai oleh badai persoalan seperti sakit penyakit, perlakukan tidak adil (diskriminatif), kematian, dsb. Namun hal itu tidak boleh hanya berhenti di situ saja, tetapi harus melangkah pada tahap berikutnya yakni berpengharapan bahwa di tengah badai sekalipun ada Allah yang hadir menyertai dan menopang kita (Tambahkan contoh-contoh praktisnya).
  3. Salah satu ciri jemaat misioner (dalam arti yang mampu bersaksi kepada orang lain) adalah yang menyadari bahwa Allah sanggup bekerja di dalam setiap persoalan hidup untuk menyatakan kuasa-Nya kepada kita agar kita teguh beriman kepada-Nya.

—LL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *