KAMU ADALAH SAHABATKU

Spread the love

Bahan Khotbah Minggu, 6 Mei 2018 (Paskah VI)

Nas Bacaan : Yohanes 15:9-17

Nas Khotbah : Yohanes 15:9-17

Tema : “KAMU ADALAH SAHABATKU”

 

  1. PENDAHULUAN

Jika diperhatikan, nas bacaan dalam Injil Yohanes 15:9-17, sesungguhnya sarat dengan kosa kata yang berhubungan dengan gagasan tentang “kasih”, yang terlihat dari kalimat “saling mengasihi”, “tinggal dalam kasih”, dan “memberikan nyawa demi sahabat-sahabatnya”. Semua kalimat ini merupakan perwujudan dari kasih itu sendiri dalam persahabatan. Hal ini tentu dapat dipahami dengan memperhatikan bahwa Yohanes 15:9-17, merupakan bagian dari pengajaran Tuhan Yesus kepada para murid selama perjamuan malam terakhir (Yoh 13:31-17:26). Para murid perlu belajar hidup terus dalam kasih, meskipun secara fisik tanpa kehadiran Tuhan Yesus seperti biasa. Mereka diajar membangun kebersamaan dalam wujud lain, yaitu dalam kasih. Dengan tujuan itulah para murid diingatkan akan pesan untuk saling mengasihi di antara sesama mereka dan juga bagi orang lain.

  1. PENJELASAN/ISI

Pengajaran Tuhan Yesus dalam Yohanes 15:9-17 ini, adalah bagian pesan-pesan yang diajarkan pada sebuah kesempatan khusus, yakni perjamuan malam terakhir bersama para murid-Nya, yaitu saat-saat menjelang penderitaan dan kematian-Nya. Pada awal perjamuan, Tuhan Yesus menyebutkan, salah seorang dari mereka akan menyerahkan-Nya (Yoh 13:21-30). Hubungan guru-murid yang hingga saat itu baik mulai terganggu oleh upaya iblis. Dan iblis melihat bahwa diantara mereka ada celah yang dapat dimasukinya untuk menghancurkan. Besar kemungkinan, pada saat itu para murid belum mampu mengerti apa yang dimaksud Tuhan dengan perkataan-Nya tersebut, bahkan Petrus meminta Yohanes (salah seorang murid yang dikasihi) bertanya tentang siapa orang yang dimaksud. Tuhan Yesus menjawab bahwa orang yang dimaksud ialah dia yang akan diberinya roti. Kemudian ia memberikan roti itu kepada Yudas Iskariot. Demikian jelas bagi pembaca siapa orang yang dimaksud. Disebutkan juga dalam Injil Yohanes bahwa sesudah itu Yudas Iskariot kerasukan Iblis (Yoh 13:27). Tuhan Yesus menyadari akan hal ini, bahkan Tuhan berkata kepada Yudas Iskariot agar ia segera pergi melakukan apa yang hendak diperbuatnya. Dan Yudas pun keluar. Murid-murid tidak menangkap arti kejadian itu. Mereka mengira Tuhan Yesus menyuruh Yudas Iskariot, pemegang kas mereka, untuk pergi membeli sesuatu. Sampai saat itu Tuhan masih menganggap Yudas Iskariot sebagai bagian dalam persekutuan, itu sebabnya masih diajak makan bersama. Tapi justru pada saat itulah pengaruh iblis yang menentang Tuhan merasuk dalam diri seorang manusia, dan orang tersebut adalah orang yang amat dekat dengan-Nya. Dari Injil Yohanes ini terlihat jelas bahwa inilah saatnya Iblis memakai cara-cara manusiawi untuk menggagalkan kehadiran ilahi di tengah-tengah manusia. Menarik diperhatikan perkembangan pergulatan antara dua kekuatan ini. Allah memakai wujud manusia untuk menjalankan karya penebusan, yaitu Tuhan Yesus. Namun iblis juga memakai wujud manusia untuk menghancurkan karya Allah tersebut. Inilah yang perlu untuk kita waspadai bersama dalam kehidupan. Tuhan hadir agar orang percaya dapat merasakan kasih dalam kehidupannya dengan orang lain. Namun, iblis juga tidak akan tinggal diam. Ia selalu berusaha untuk merusak kasih itu, melalui orang yang ada di tengah persekutuan itu sendiri. Oleh karena itu, tetaplah waspada untuk tidak pernah dijadikan alat oleh iblis untuk merusak suasana persekutuan yang indah dan penuh kasih.

Pada bagian awal dan akhir nas bacaan ini berbicara mengenai kasih antara Tuhan Yesus dengan Bapa-Nya yang menumbuhkan kasih antara Ia dengan para murid-Nya (ay. 9). Di akhir perikop ini juga dituliskan bahwa dengan tegas Tuhan berkata, Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain” (ay. 17). Begitu terasa penekanan bagian yang mengharapkan agar para murid saling mengasihi. Tujuan saling mengasihi di situ ialah membangun komunitas para murid, sehingga tiap orang mendapat ruang hidup yang layak. Perikop ini juga sebenarnya mengajak para pembaca untuk mendalami pengajaran Tuhan Yesus yang sudah disampaikan dalam Yoh 13:34-35. “Aku memberi kalian sebuah perintah baru, yaitu hendaknya kalian saling mengasihi”. Kemudian dijelaskan mengapa sewajarnyalah begitu, yakni “Sama seperti aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu hendaknya kalian saling mengasihi.” Sikap saling mengasihi itu tumbuh dari perhatian besar dari Yesus bagi para murid. Inilah yang disebut sebagai “perintah baru” di situ. Mungkin banyak orang bertanya, “Mengapa disebut baru?” Jawabnya pasti bukan karena semua perintah yang lain, sudah tidak berguna lagi. Bukan juga karena orang belum tahu, melainkan dalam arti yang mesti dihidupi dengan cara yang segar, yang tidak kaku, bukan secara rutin belaka, secara wajib belaka. Dan bila mereka berhasil, seperti disebut dalam ay. 34, maka kehidupan mereka itu orang banyak akan tahu bahwa mereka tetap menjadi murid-muridnya. Orang banyak akan melihat bahwa perilaku serta perbuatan para murid secara tidak langsung telah menghadirkan kembali Tuhan dalam kehidupan. Hidup mereka seakan-akan menyuratkan perintah Tuhan yang dapat dibaca orang banyak. Hidup mereka menjadi kesaksian. Dalam pengertian inilah orang percaya dapat lebih memahami apa yang dimaksud dengan saling mengasihi dalam perikop Yoh. 15:9-17.

Lebih jauh lagi, Tuhan Yesus kemudian lebih menjelaskan dari mana kekuatan atau kemampuan positif tadi berasal. Pada awal perikop ini disebutkan: “seperti Bapa telah mengasihi aku, demikianlah juga aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasihku itu”. Kekuatan mengasihi itu bersumber dari Allah Bapa sendiri dan yang menjadi nyata dalam kehidupan Tuhan Yesus dan dihayatinya bersama para muridnya. Pertanyaan bagi banyak orang adalah “Bagaimana saling mengasihi itu dapat dibahasakan bagi orang sekarang?” Contohnya adalah dalam prinsip sepenanggungan, atau solidaritas. Maksudnya, bila di tengah-tengah persekutuan ada solidaritas, maka setiap orang mudah untuk mulai saling percaya satu dengan yang lain. Dan bila orang mulai makin saling percaya, maka hubungan-hubungan selanjutnya yang lebih baik pun bisa terbangun. Juga kesulitan pun menjadi permasalahan yang tidak lagi membuat kehancuran persekutuan. Inilah prinsip kehidupan persekutuan yang ingin dibangun Yesus kepada para murid-Nya. Yang diingatkan Tuhan Yesus ialah keyakinan untuk bersama-sama memperbaiki kemanusiaan, mungkin mulai dengan cara kecil, dengan saling memberi perhatian. Kita diminta menemukan jalan-jalan baru yang belum terpikirkan sebelumnya. Ini kemanusiaan baru. Inilah yang menunjukkan sebuah kekuatan sebagai para sahabat Allah.

  1. KESIMPULAN/PESAN/AJAKAN
  1. Penerapan Umum.Tuhan Yesus telah mengutus kita menjadi duta-Nya ke tengah-tengah dunia ini untuk memberlakukan kasih-Nya sebagai bukti bahwa Ia telah menjadi sahabat bagi manusia.
  2. Penerapan Khusus. Tindakan kita yang didasari atas kasih dari Kristus akan memampukan kita untuk saling mengasihi. Bukan hanya mengasihi orang yang dekat dengan kita saja, tetapi juga orang-orang lain yang memang layak menerima kasih yang kita miliki, bahkan kita juga dituntut untuk mengasihi musuh. Semua itu dapat kita lakukan jika kita senantiasa membangun hubungan dengan TuhanYesus. Saat kita berbagi kasih Tuhan maka disitulah akan terlihat perwujudan bahwa kita adalah sabahat-sahabat Allah.
  3. Penerapan PI. Pngajaran yang diberikan kepada para murid inilah juga yang dapat menjadi sebuah warisan bagi kita untuk kita teruskan bagi generasi selanjutnya. Setiap orang dapat menghidupkan dan menyatakan arti akan kasih kepada sesama dengan pelbagai cara sesuai dengan keadaan yang sedang terjadi.

 

–ES

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *