PENGHARAPAN YANG TERPENUHKAN

Spread the love

Bahan Khotbah Minggu, 1 Juli 2018

Nas Bacaan : Markus 5:21-43

Nas : Markus 5:25-34

Thema : “PENGHARAPAN YANG TERPENUHKAN”

 

  1. PENDAHULUAN

.Seorang teolog pernah berkata, “iman itu dinamis. Ia bisa gugur, mati dan luruh. Tapi bisa pula hidup, berkembang dan bertumbuh serta membawa dampak dalam kehidupan manusia”. Kalimat ini jelas memperlihatkan bahwa iman bukanlah seperti benda mati yang tidak akan berubah meskipun disimpan dalam jangka waktu yang lama. Iman itu hidup! Meskipun keberadaannya tidak dapat digambarkan seperti apa, tapi iman dapat dirasakan dan membawa pengaruh bagi kehidupan seseorang ketika ia berhadapan dengan banyak peristiwa dalam kehidupannya, yaitu respon dan sikapnya. Banyak contoh yang diperlihatkan dalam Alkitab tentang iman seseorang dalam hubungannya dengan Tuhan. Salah satunya adalah kisah tentang seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita penyakit pendarahan. Iman perempuan ini mendorong dirinya untuk datang mendekati Yesus dan memohon kesembuhan, meskipun dengan cara yang sangat aneh. Hanya dengan menjamah jubah-Nya saja, maka penyakit yang selama ini dideritanya akhirnya sembuh. Imannya telah memulihkan hidupnya, dan seluruh harapan dalam dirinya telah terpenuhi dalam perjumpaannya dengan Tuhan Yesus.

  1. ISI/PENJELASAN

Kisah dalam Makus 5:25-34, pada dasarnya merupakan kisah sisipan yang sengaja dituliskan penginjil Markus sebagai kesaksiannya akan kemahakuasaan Tuhan. Setelah Markus menyatakan Tuhan Yesus sebagai Tuhan atas abadai di laut dan juga atas roh-roh jahat, kini ia juga ingin menyatakan Tuhan yesus sebagai Tuhan atas kematian dan segala penyakit. Peristiwa ini akan semakin memperlengkapi sosok Kristus yang telah hadir bagi manusia. Di awal kisah disebutkan bahwa pada saat itu Tuhan Yesus bermaksud hendak pergi ke rumah Yairus, seorang kepada rumah ibadat, sebab anaknya sedang sakit. Orang banyak mengikuti Tuhan Yesus. Di tengah jalan, ketika orang banyak berdesak-desakan mengikuti Tuhan Yesus, datanglah seorang perempuan yang menderita pendarahan selama dua belas tahun mencoba untuk mendekati Tuhan Yesus untuk memohon kesembuhan. Sebelum mujizat kesembuhan terjadi, injil Markus menjelaskan bagaimana situasi yang dihadapi oleh perempuan tersebut. Dalam ayat 25-26 dijelaskan bahwa penyakit tersebut sudah dua belas tahun lamanya ia derita. Seluruh harta kekayaannya sudah habis untuk berobat. Lebih dari itu lagi, dalam hukum orang Yahudi ada aturan-aturan yang keras menyangkut orang seperti itu. Ia dianggap tidak suci, dan oleh karena itu ia diwajibkan untuk mempersembahkan korban penghapusan dosa (lih. Im.15:25). Kehidupannya juga dikucilkan dan dijauhi, sebab orang yang tersentuh atau menyentuhnya dapat dianggap tidak suci. Itu sebabnya ia dilarang berada dalam keramaian dan jika melanggar ia bisa dihukum mati dengan dilempari batu. Gambaran ini secara tidak langsung memperlihatkan penderitaan fisik dan psikologis yang harus dilalui olehnya. Namun sungguh aneh, dalam ay. 27b, dikatakan: “maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang ….”. Perbuatan ini adalah kenekatan yang luar biasa dan bisa saja mengakibatkan resiko yang sangat berat bagi dirinya. Tapi perempuan tersebut memberanikan diri datang kepada Tuhan Yesus. Imannya yang tumbuh oleh apa yang didengarnya selama ini tentang Tuhan Yesus membawanya pada sebuah sikap berani dan mau menanggung resiko. Bagian ini menjadi pelajaran berharga bagi kita sekarang. Iman membutuhkan keberanian yang sungguh-sungguh dari seseorang untuk mau hidup dalam imannya meski banyak tantangan yang menghadang. Iman tidak bertujuan menjadikan orang percaya menjadi pribadi-pribadi yang lemah, tanpa kesungguhan dan komitmen yang kuat. Sebaliknya, iman bertujuan memulihkan keberanian dan kemauan seseorang untuk tetap datang kepada Tuhan, meski berat tantangan yang harus dihadapi. Jadi sebelum kita berharap Tuhan memulihkan hidup kita, maka berusahalah untuk memulihkan keberanian, tekad dan kemauan yang sungguh-sungguh untuk datang pada-Nya. Sering orang merasa kecewa pada Tuhan. Ia merasa Tuhan tidak memperhatikan penderitaannya. Selain itu, iman tidak hanya sebatas mempercayai sebuah kebenaran atau sebuah fakta. Tapi iman adalah kemauan seseorang untuk mempercayakan diri. Mempercayakan diri berarti mengaku bahwa kasih Tuhan bisa diandalkan, sehingga kita tidak lagi mengandalkan kekuatannya sendiri, tapi mengandalkan kasih Tuhan.

Kemudian dalam ay. 28, terlihat bagaimana kesederhanaan konsep iman yang dimiliki oleh perempuan tersebut. Ia hanya berkata di dalam hatinya, “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh”. Cukup menarik untuk diperhatikan bagian ini. “Ada apa dengan jubah Tuhan Yesus, sehingga perempuan itu berpikir bahwa asal ia menjamah jubah tersebut, maka ia akan sembuh? Yang ingin dijelaskan dalam ayat ini adalah bahwa jubah bukan merupakan sumber kesembuhan baginya. Jubah itu sedikit pun tidak memiliki kekuatan magis yang akan terasa jika disentuh. Yang ingin dijelaskan pada bagian ini adalah bahwa perempuan tersebut benar-benar percaya bahwa dalam diri Tuhan Yesus ada kuasa yang sangat besar, sebab Ia adalah Tuhan. Jadi menjamah jubah-Nya, berarti menyentuhkan dirinya kepada Tuhan Yesus. Terlihat betapa iman perempuan tersebut tidak berbelit-belit, bukan seperti konsep iman yang banyak dijelaskan oleh pakar-pakar teologi. Landasan utama imannya adalah datang dan merasakan sentuhan dirinya dengan Tuhan itu sendiri. Perempuan itu tidak mempermasalhkan bagaimana “cara” datang kepada Tuhan, tapi apa “alasan utama” sehingga ia datang kepada Tuhan. Dengan iman yang sederhana perempuan itu telah terhisap ke dalam kuat kuasa Tuhan Yesus dan menjadi bagian dari saluran berkat-Nya.  Itulah sebabnya dalam ay. 29, dikatakan: “Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa…..”. Iman yang sangat besar dalam diri perempuan tersebut telah memulihkannya.

Kesembuhan perempuan yang terjadi secara tiba-tiba sebenarnya diketahui Tuhan Yesus, sebab Ia merasa ada tenaga atau kekuatan yang keluar dari diri-Nya kepada seseorang (ay. 30). Yang diminta oleh Tuhan dalam pertanyaan-Nya, “Siapa yang menjamah jubah-Ku”, sebenarnya tidak hanya ingin mengetahui siapakah orang yang telah berani menjamah jubah-Nya. Sebab pada saat itu ada banyak orang yang berdesak-desakan dengan Tuhan Yesus. Tapi yang dimaksud Tuhan Yesus dalam pertanyaan-Nya ini adalah Ia ingin melihat kejujuran dan keberanian seseorang dalam menyaksikan sesuatu yang telah diterimanya, yaitu kesembuhan yang sudah dirasakan perempuan tersebut. Imannya hendaknya tidak hanya sebatas kepulihan dari penyakit, tapi juga kepulihan secara psikologis, sehingga ia mampu tampil di depan banyak orang untuk menyaksikan kasih Tuhan. Hal ini dirasa Tuhan sangatlah perlu dan menjadi pelajaran yang berharga bagi kita. Iman tidak hanya sebatas keberanian seseorang datang kepada Tuhan dengan membawa seluruh beban hidupnya. Iman tidak hanya sebatas kekuatan bagi seseorang menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupannya. Tapi, iman juga menuntut kemauan seseorang untuk menjadikan seluruh peristiwa hidupnya sebagai sebuah kesaksian yang benar bagi dirinya dan orang lain. Di sinilah akan terlihat fungsi dari iman yang sesusungguhnya. Iman akan membawa seseorang untuk meninggalkan kepentingannya sendiri (self-interest), lalu menggantikannya dengan mengutamakan kepentingan Tuhan sehingga hidupnya secara utuh memperoleh kebebasan/pemulihan. itu sebabnya dalam ay. 33, dikatakan: “….. tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya”. Tuhan Yesus tidak mencela perbuatan perempuan tersebut. Sebaliknya Ia memuji iman yang dimiliki perempuan itu. Dengan imannya, ia telah membuat Tuhan menaruh belas kasihan (ay. 34).  

  1. KESIMPULAN/PESAN/AJAKAN
  • Penerapan Umum. Iman yang sungguh-sungguh kepada Tuhan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan orang percaya.
  • Penerapan Khusus. Dengan iman, seseorang tidak saja merasa bahwa Tuhan berada begitu dekat dengan dirinya, namun melalui iman juga orang percaya akan merasakan hidupnya memiliki keberanian menghadapi sesuatu, merasakan keinginan untuk selalu mengalami persentuhan yang nyata dengan Tuhan, dan menyaksikan pemulihan Tuhan yang utuh dalam kehidupannya.
  • Penerapan PI. Kisah dalam Markus 5:25-34 menjadi suatu landasan dan bukti bahwa sebuah usaha dengan mengedepankan dan bertujuan kepada Tuhan, pasti akan terwujud. Itu sebabnya, tetaplah dekat dan bersentuhan dengan Tuhan, maka Ia akan memenuhi harapan kita.

—ES

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *