KOMUNITAS YANG BERSAKSI

Spread the love

Bahan Khotbah Paska, 15 April 2018
Nas Bacaan : Lukas 24 : 36 – 48

Nas Khotbah : Lukas 24 : 36 – 48

Tema : ”KOMUNITAS YANG BERSAKSI”

PENDAHULUAN
Apakah yang terjadi kalau seseorang dikecewakan oleh pengharapan-pengharapan religiusnya, dikecewakan oleh iman dan agamanya. Kira-kira seperti apa sikap yang akan terlihat dari orang yang seperti itu? Sama misalnya seperti seorang pemuda atau pemudi yang dikecewakan oleh kekasih yang sangat dicintainya. Setelah beberapa lama menjalin hubungan dan membangun sebuah komitmen bersama untuk sehidup-semati, ternyata sang kekasih ingkar janji. Ia pasti akan sangat kecewa. Murid-murid Tuhan Yesus juga pernah menjadi orang-orang yang hampir jatuh ke dalam kekecewaan ketika berhadapan dengan kematian Tuhan Yesus. Mereka merasa tiga setengah tahun mengikut Tuhan berakhir dengan kesia-siaan, sebab Guru yang mereka agungkan telah takluk oleh pemuka agama dan pemerintah Romawi. Kenyataan ini tentu akan berpengaruh pada sikap hidup mereka ke depan dan terlebih pada misi yang diembannya, yaitu untuk mewartakan pertobatan dan pengampunan dosa kepada orang banyak. Hal inilah yang ingin disampaikan dalam nas bacaan Lukas 24:36-49, mengisahkan tentang Tuhan Yesus yang kembali mengingatkan para murid untuk mewartakan pertobatan dan pengampunan dosa bagi orang banyak, dengan dasar kebangkitan-Nya.

ISI/PENJELASAN
Bacaan ini berada setelah kisah penyataan diri Tuhan Yesus yang telah bangkit di jalan ke Emaus. Dalam kisah di jalan sampai ke Emaus itu, Tuhan Yesus menyatakan diri kepada dua orang murid-Nya. Peristiwa itu tentu mengejutkan sekaligus menguatkan keyakinan para murid bahwa Tuhan Yesus telah bangkit. Suasana bingung dan bertanya-tanya tentu menyelimuti sebagian besar murid oleh karena mereka belum mengalami secara langsung peristiwa yang terjadi atas kedua teman mereka. Kini, ketika mereka sedang membicarakan hal mengejutkan itu, Tuhan Yesus tiba-tiba berada di tengah-tengah mereka dan mengucapkan salam, Damai sejahtera bagi kamu! Inilah ucapan salam yang mengharapkan agar yang diberi salam itu merasa tenang, aman, nyaman dan makmur, sebagaimana maksud dari kata damai sejahtera. Harapan akan hal tersebut ternyata malah berbanding terbaik. Para murid ternyata menjadi terkejut dan takut: apakah ini hantu? Mereka menjadi bingung juga ragu tentang kenyataan di hadapan mereka. Melihat keadaan yang kurang nyaman itu, Yesus kemudian meyakinkan mereka bahwa Dialah itu. Pada dasarnya sikap bertanya-tanya dengan penuh keraguan di kalangan para murid itu mencerminkan sikap orang Kristen yang menjadi alamat penerima Injil Lukas. Keragu-raguan, yang dalam bahasa Yunaninya menggunakan kata “dialogismos”, sebenarnya menunjukkan sikap yang mempertanyakan kebenaran sesuatu. Dalam hal ini mereka mempertanyakan apakah Yesus benar-benar bangkit; apakah desas-desus yang berkembang itu dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Ini sekaligus menggugat intisari iman Kristen yang berdasar pada keyakinan Yesus yang bangkit. Keraguan para murid tersebut dijawab oleh Yesus dengan membuktikan kebangkitan-Nya, yakni pertama, tangan dan kakinya yang berbekas paku dan tubuh yang berdaging dan bertulang. Kedua, Yesus membuktikannya dengan makan sepotong ikan goreng. Hantu tentu saja tidak melakukan aktivitas itu, seperti halnya manusia.
Bukti selanjutnya dari kebangkitan Yesus adalah para pengikutnya yang diharapkan dapat menjadi saksi peristiwa itu. Istilah saksi menggunakan kata martus yang berpadanan dengan kata martir. Jadi dalam hal ini bukanlah saksi dusta atau rekayasa, tetapi saksi yang benar-benar rela mempertahankan kebenaran kesaksiannya itu di hadapan semua orang. Keterangan inilah yang membuat inti iman Kristen itu tetap dipegang oleh semua orang Kristen di dunia ini. Kehadiran Tuhan di tengah para murid dilanjutkan dengan perkataan-Nya, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. (ay. 47). Dalam ayat ini ada dua hal yang ingin dijelaskan Tuhan Yesus kepada para murid sebagai inti dari kebangkitan-Nya, yaitu berita tentang pertobatan dan berita tentang pengampunan dosa harus disampaikan kepada seluruh bangsa. Ini adalah peringatan yang harus benar-benar diingat. Kedua hal ini merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Pertobatan tanpa pengampunan dosa hanya akan membawa manusia pada pemahaman bahwa Tuhan adalah Tuhan yang pemarah, tidak memiliki ampunan dan hanya menuntut manusia untuk bertobat, tanpa ada janji pengampunan dosa. Hal ini akan membawa manusia pada sikap takut yang salah akan Tuhan. Namun, di sisi yang lain, pengampunan dosa tanpa pertobatan juga merupakan sesuatu yang tidak benar. Pemberitaan pengampunan dosa tanpa menekankan seseorang untuk bertobat, akan menjadikan kekristenan sebagai sesuatu yang murahan. Sesuatu yang dapat diperoleh tanpa konsekuensi apa pun dari manusia. Manusia akhirnya terlena, tanpa dibebani oleh keinginan untuk memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Manusia tidak akan memiliki keinginan untuk lebih banyak belajar dan berusaha melakukan keinginan Tuhan dalam hidupnya. Hal ini menjadi peringatan dalam kehidupan sekarang. Memang keselamatan adalah merupakan anugerah Tuhan semata, sebab di dalam keselamatan ada pengampunan dosa, namun harus direspon oleh seseorang dalam bentuk pertobatan yang berkelanjutan. Dengan hal inilah maka akan terlihat betapa berharganya karya penebusan dan kemenangan atas maut yang telah dinyatakan Allah dalam Anak-Nya.
Kemudian dalam ayat 48, Tuhan Yesus mengingatkan para murid-Nya akan status yang menjadi gambaran hidup mereka. Kamu adalah saksi dari semuanya ini. Kata saksi dalam ayat ini memperlihatkan sesuatu yang perlu dilakukan. Seorang saksi adalah seseorang yang diharapkan dapat menyatakan kebenaran yang sesungguhnya, yaitu tentang kebenaran Tuhan. Jadi dengan perkataan ini akan terlihat jelas arti dari kebersamaan para murid dengan Tuhan Yesus. Apa yang telah mereka lihat dan dengar dari Tuhan Yesus, itulah yang hendaknya mereka saksikan kepada seluruh bangsa. Inti dari kesaksian mereka adalah tentang karya penyelamatan Allah dalam kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus. Tidak lebih dan tidak kurang dari itu! Selain itu, kata saksi menjadi sumber semangat bagi para murid. Tadinya mereka merasa hidupnya tidak lagi memiliki tujuan dan arti sejak kematian Tuhan Yesus. Namun, melalui kebangkitan-Nya, Tuhan ingin menyampaikan arti dan tujuan hidup mereka yang baru. Sekarang ini, perkataan Tuhan ditujukan bagi kita. Kasih Tuhan yang mengangkat kita menjadi saksi-Nya merupakan kebanggan tersendiri bagi setiap orang percaya. Kita adalah saksi untuk menyatakan kebenaran Tuhan, bukan kebenaran manusia. Memang tugas tersebut sangatlah berat. Banyak tantangan yang akan dihadapi oleh orang-orang percaya. Tapi, sama seperti yang dikatakan Tuhan dulunya, Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku…. (ay. 49). Tuhan menjanjikan penghiburan dan kekuatan melalui Roh-Nya, dan hal itu hanya akan diperoleh jika memang para murid memiliki kesabaran dalam menantikannya. Kesabaran ini sangat dibutuhkan oleh setiap orang percaya dalam mengemban tugasnya, sebab di dalamnya akan nyata karya Tuhan melalui hidupnya.

KESIMPULAN/PESAN/AJAKAN
Dari penjelasan di atas, ada beberapa kesimpulan yang dapat diambil:
Penerapan Umum. Tuhan sudah bangkit dari kematian dan menyatakan diri kepada orang-orang percaya. Ia ingin membangun dan menata kembali iman orang-orang yang mengasihi-Nya melalui penyataan diri-Nya.
Penerapan Khusus. Kebangkitan Tuhan Yesus bukan hanya sebuah peristiwa yang berlalu tanpa arti. Tetapi, peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus menjadi sebuah ajakan kepada seluruh orang percaya, khususnya jemaat GKI-SUMUT Medan bahwa mereka adalah saksi yang dipilih Tuhan untuk memberitakan tentang pertobatan dan pengampunan dosa kepada semua orang yang belum mendengarnya.
Penerapan PI. Menjadi saksi adalah hakikat hidup orang percaya. Oleh karena itu, kehadiran orang percaya di tengah dunia ini, bukan untuk menghakimi, menjatuhkan, namun untuk menyatakan pengampunan. Tapi, pengampunan yang dimaksud bukan berarti menggampangkan, menganggap remeh setiap kesalahan dan dosa. Pengampunan harus diikuti dengan pertobatan. Sebaliknya juga, pertobaan didasari oleh pengampunan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *