SABAT UNTUK SEMUA

Spread the love

Bahan Khotbah Minggu, 3 Juni 2018

Nas Khotbah : Markus 2:23-3:6

Tema : SABAT UNTUK SEMUA

 

  1. PENDAHULUAN

Ada beberapa kesalahanpahaman umum tentang hukum hari Sabat yang terus dipraktekkan oleh orang-orang Kristen. Kesalahan pertama adalah memisahkan secara mutlak hari Sabat dari hari-hari di mana mereka bekerja. Akibatnya, walaupun mereka mungkin rajin ke gereja sebagai bentuk mentaati hukum Sabat, tetapi sebenarnya hatinya terus mendua antara untuk pekerjaan dan untuk Tuhan. Kedua, karena pemisahan secara mutlak tersebut, banyak orang Kristen yang sebenarnya tidak terlalu merasakan pentingnya hukum hari Sabat. Bagi kebanyakan kita, hari Sabat hanyalah sekedar waktu untuk beristirahat dan memulihkan tenaga, supaya bisa bekerja lagi dengan baik. Dengan kata lain, fokus mereka sebenarnya tetap pada bekerja, dan Sabat dianggap tidak terlalu penting dibandingkan dengan hari-hari untuk bekerja.

  1. PENJELASAN/ISI

Konsep tentang hari Sabat, sebenarnya telah ditetapkan Tuhan jauh sebelum Ia memberikan Sepuluh Perintah kepada Musa di gunung Sinai. Sesudah menciptakan, Tuhan berkata, “Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu” (Kej. 2:3). Tuhan berhenti dari penciptaan, tetapi Alkitab juga menyatakan bahwa Tuhan tetap bekerja secara aktif dalam dunia ciptaan-Nya (Yoh. 5:17). Tuhan terus bekerja melalui ciptaan-Nya untuk membuat segala sesuatu menjadi indah pada waktunya (Pkh. 3:9-11). Artinya, hari-hari di mana kita harus bekerja, dan juga hari Sabat, semuanya adalah dari, oleh, dan untuk Tuhan. Yang membedakan hari Sabat dari hari-hari lainnya adalah bentuk aktivitasnya, bukan makna (meaning) dan tujuan (purpose) dari aktivitas itu sendiri. Makna dan tujuannya adalah untuk kemuliaan Tuhan. Seseorang hendaknya tidak mengatakan bahwa enam hari buat saya, satu hari buat Tuhan. Itu pemahaman yang tidak tepat. Semua hari adalah dari, oleh dan untuk Tuhan. Lebih lanjut, dalam Im. 25:1-22, Tuhan bahkan mengaitkan hukum Sabat dengan perhentian dan pembebasan untuk tanah, ternak dan budak. Tuhan memerintahkan agar pada tahun yang ketujuh harus ada “masa perhentian penuh, suatu sabat bagi Tuhan” (Im. 25:4). Bahkan di tahun Yobel, tahun yang kelima puluh, bangsa Israel tidak boleh menabur dan hanya boleh menuai dari apa yang tumbuh secara liar di ladang (Im. 25:11). Dengan menerapkan hukum Sabat pada pusat kehidupan ekonomi mereka, Tuhan hendak mengajari mereka agar jangan pernah lupa untuk menggantungkan hidup mereka hanya kepada Tuhan. Dengan kata lain, hukum Sabat mengingatkan bangsa Israel tentang peran sentral Tuhan dalam kehidupan mereka. Dalam kenyataannya, bangsa Israel sendiri mengabaikan sama sekali perintah ini. Tujuh puluh tahun masa pembuangan, menurut nabi Yeremia, adalah jumlah hutang Sabat yang bangsa Israel harus bayar kepada Tuhan (2 Taw. 36:21).

Selanjutnya dalam kitab Injil (Markus 2:23-3:6) terlihat bagaimana Tuhan Yesus menunjukkan kesalahpahaman orang-orang Farisi tentang hukum hari Sabat. Apabila diperhatikan perdebatan tentang hukum hari Sabat antara Tuhan Yesus dengan orang-orang Farisi, terlihat bahwa salah satu kesalahan utama orang-orang Farisi adalah membuat hukum Sabat menjadi sebuah konsep perhentian mutlak, yaitu hari perhentian yang terpisah sama sekali dari segala macam kegiatan sehari-hari. Mereka melarang orang melakukan aktivitas apapun juga pada hari itu, bahkan termasuk aktivitas yang sifatnya adalah perbuatan baik. Dalam argumen-Nya, Tuhan Yesus mengingatkan mereka bahwa Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat (Markus 2:28). Artinya, seperti sudah disebutkan di atas, semua hari, baik Sabat atau bukan, adalah dari, oleh dan untuk Tuhan. Tidak ada salahnya seseorang berbuat sesuatu yang baik dan benar dan yang memuliakan Tuhan pada hari Sabat. Tetapi Sabat tetap memiliki makna yang khusus dibandingkan hari-hari lainnya. Itu sebabnya Tuhan Yesus juga berkata bahwa Sabat dibuat untuk manusia, bukan manusia untuk Sabat (Markus 2:27). Artinya, hukum Sabat tidak dibuat untuk membebani manusia, tetapi justru demi untuk kebaikan manusia sendiri. Di sinilah terletak nilai tertinggi dari suatu hukum itu sendiri, yaitu ketika hukum itu sendiri diarahkan untuk mendukung dan menopang kehidupan manusia itu sendiri.

Bekerja dan beristirahat adalah dua ritme kehidupan yang saling melengkapi dan terjalin erat. Namun perlu juga diperhatikan bahwa hukum tentang Sabat tidak mengajari kita “dualisme” hari-hari kehidupan kita. Yang membedakan Sabat dari hari-hari lainnya adalah bentuk aktivitasnya, bukan hakekat aktivitas yang kita lakukan. Sabat bukan sebuah hari yang khusus yang sama sekali terpisah maknanya dari hari-hari di mana kita bekerja, tetapi “Sabat” justru harus menjadi bagian inti dari pemahaman kita tentang bekerja. Sabat menolong kita untuk memahami bahwa:

  • Setiap pekerjaan, apapun bentuknya, adalah bagian dari pekerjaan Tuhan untuk terus berkarya dalam dunia ciptaan-Nya. Hukum Sabat ditetapkan agar kita ingat makna rohani dari setiap pekerjaan yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kita semua adalah rekan kerja Allah dalam memelihara dan memaksimalkan dunia ciptaan-Nya.
  • Tujuan akhir dari bekerja bukanlah pada bekerja itu sendiri atau mengumpulkan harta untuk kekayaan diri sendiri, tetapi untuk melakukan hal-hal yang memuliakan nama Tuhan. Bekerja adalah sarana untuk memuliakan Tuhan. Klimaks dari perbuatan memuliakan Tuhan adalah pada hari Sabat di mana kita secara penuh waktu beribadah kepada-Nya. Sama seperti Tuhan membuat segala ciptaan yang begitu indah dan menikmatinya pada hari ketujuh, demikian pula hari Sabat adalah hari untuk kita menikmati waktu khusus bersama dengan Tuhan.
  • Kehidupan ekonomi kita tidak bergantung pada pekerjaan kita, tetapi pada Tuhan sendiri. Sabat mengingatkan kita dari waktu ke waktu bahwa sumber penghasilan kita adalah dari Tuhan sendiri. Sabat adalah waktu khusus untuk menyucikan hati kita yang berdosa ini dari segala ketamakan.
  1. KESIMPULAN/PESAN/AJAKAN
  • Penerapan Umum. Ketaatan terhadap hukum secara buta, bukanlah suatu identitas untuk menunjukkan bahwa seseorang adalah orang Kristen yang benar. Sebaliknya, terhadap suatu hukum orang-orang Kristen harus mampu memahami dan menyelami maksud dan makna terdalam dari suatu hukum. Ketaatan kepada hukum secara hurufiah tidak boleh dijadikan sebagai sarana untuk membenarkan diri dan meneguhkan diri sendiri sebagai orang benar, sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dalam konsep hari Sabat.
  • Penerapan khusus. Memahami makna hari Sabat, maka orang-orang Kristen, khususnya jemaat GKI-SUMUT Medan mampu memiliki hubungan akrab dengan Allah, yang telah dipulihkan Yesus melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Maka Sabat bukan lagi hanya satu hari dalam setiap minggu. Namun tiap hari adalah saat mewujudkan relasi yang akrab dengan Allah.
  • Penerapan PI. Manusia membutuhkan hari Sabat sebagai hari ketika Allah menganugerahkan berkat-Nya. Berkat pemulihan bagi mereka yang sakit, makanan bagi yang lapar, dan pembebasan bagi yang tertindas. Memaknai Sabat sebagai hari perhentian berarti menyediakan ruang bagi Allah untuk menyatakan karya-Nya dalam hidup setiap orang, juga ruang bagi kita untuk menumbuhkan kepekaan terhadap sesama yang membutuhkan atau yang menderita. Sabat bukan saat bagi kita melipat tangan dan berdiam diri. tetapi saat untuk berbuat kasih sebagaimana yang diinginkan Allah. Singkatnya, Sabat ada untuk kesejahteraan dan kebaikan manusia. Amin.

—ES

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *