Sejarah GKI Sumut Medan

Spread the love

Pertambahan usia merupakan sebuah berkat yang luar biasa dari Tuhan Yang Maha Esa dan prestasi tersendiri bagi seseorang maupun lembaga, tidak terkecuali bagi Gereja Kristen Indonesia Sumatera Utara atau yang dikenal dengan sebutan GKI Sumut Medan. Hanya berselang satu hari sebelum perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia, atau tepatnya tanggal 16 Agustus 2015, gereja yang berkedudukan di Jalan K.H. Zainul Arifin No. 124-126 Medan ini akan merayakan jubileum 100 tahun usianya.

Layaknya individu yang bertumbuh, perjalanan panjang gereja ini juga diwarnai oleh  roses yang membentuknya, baik melalui pergumulan, perjuangan, suka maupun duka yang dilalui bersama. Dimulai dari sebuah perkumpulan kecil dengan nama Perkumpulan Gereformeerd, gereja ini terus bertumbuh dan berkembang menjadi sebuah gereja yang solid dan senantiasa berupaya mempertahankan eksistensinya sebagai pembawa terang di tengah-tengah dunia terkhusus masyarakat di Medan.

Gereja Gereformeerd di Medan

GKI Sumut Medan pada mulanya tumbuh dari kelompok yang terdiri atas beberapa orang anggota Gereja Gereformeerd Kwitang Jakarta. Kelompok pelayanan ini dimulai tanggal 1 Januari 1904 dan terus berkembang, hingga pada tahun 1913 meluas daerah pelayanannya di wilayah Sumatera Bagian Utara dan Sumatera Barat. Di Medan terdapat 9 kepala keluarga (KK), di Tapanuli 3 KK, Sumatera Timur 14 KK dan di Sumatera Barat 7 KK.

 

sejarahgki3 Gambar 1. Gedung GKI Sumut Medan (kiri) dan Pastori (kanan) Tempo Dulu

Pada tanggal 16 Agustus 1915, Kelompok Pelayanan yang semakin berkembang ini dilembagakan tersendiri menjadi Perkumpulan Gereformeerd (Gereformeerd Vereniging) dengan anggota lebih kurang 60 orang (tanggal 16 Agustus inilah yang sekarang diperingati oleh GKI Sumut Medan sebagai Hari Ulang Tahun). Rapat jemaat pertama kali dilaksanakan pada tanggal 24 Oktober 1915. Untuk pembinaan, Majelis Gereja Gereformeerd Kwitang Jakarta menugaskan Ds. W.S. de Haas sebagai Pendeta Utusan.

 

Ds. W.S. de Haas (Pendeta Utusan Periode 1915 – 1916)

Awalnya, tahun 1915, Ds. W.S. de Haas diutus sebagai Pendeta dengan misi ke Purworejo. Namun, Majelis Jemaat Batavia memintanya untuk tinggal di Medan dulu selama beberapa minggu sebelum meneruskan ke Purworejo. Ds. W.S. de Haas tiba di Medan untuk yang kedua kalinya pada Juni 1916. Kunjungan ini bukan sekedar jalan-jalan karena ketika itu J.J Meeuwse, seorang anggota Gereformeerd Vereniging, sudah membuat jadwal yang cukup padat untuknya. Jadwal itu sebagai berikut : 27 Juni – 2 Juli di Medan; Minggu 2 Juli persiapan Perjamuan Kudus dan Pembaptisan;  Senin 3 Juli kunjungan ke Kisaran; Selasa 4 Juli dari Kisaran ke Bah Lias; Rabu 5 Juli dari Bah Lias ke Tebing Tinggi dan dari sana naik mobil ke Silau Dunia; Kamis 6 Juli tiba di Perbaungan pada pukul 11.36 WIB; Jumat 7 Juli tiba di Lubuk Pakam pada pukul 09.10 WIB (pada hari itu juga kembali ke Medan); Sabtu 8 Ju1i perkunjungan di Medan; dan Minggu 9 Juli memimpin kebaktian di Medan dengan melaksanakan Perjamuan Kudus dan Naik Sidi.

Pada minggu kedua Ds. W.S. de Haas melakukan perkunjungan ke Kuala Besilam, Pangkalan Brandan, Langsa, Perlak, Lhok Seumawe, Bireuen dan Kotaraja. Pada 22 Juli 1916, Ds. W.S. de Haas tiba kembali di Medan di mana ia berkhotbah lagi. Senin 24 Juli ia pulang ke Jawa. Hampir seluruh Pesisir Timur dan Aceh sudah dikunjunginya.

Ketika Ds. W.S. de Haas meninggalkan Medan, semua berkas untuk pendewasaan gereja telah dipersiapkan. Pdt. L. Tiemersma, seorang Pendeta di Gereja Gereformeerd Kwitang yang khusus memelihara jemaat berbahasa Melayu, meminta seorang Pendeta yang separuh waktunya dipergunakan untuk melakukan misi, tetapi Ds. W.S. de Haas mempunyai pendapat yang berbeda. Menurutnya, lebih baik kalau Pendeta yang ingin dipanggil hanya melayani Sumatera Bagian Utara, sedangkan Sumatera Bagian Selatan lebih baik dilayani dari Batavia. Nasehat ini kemudian diindahkan.

Tahun 1914 diadakan Sidang Sinode di Belanda. Pada sidang itu, Gereja Batavia mengusulkan penempatan Pendeta yang bisa berpindah-pindah. Bandung menawarkan Pendeta yang berpindah-pindah tersebut dengan gaji ƒ1.000 (1.000 Gulden) untuk pelayanannya di Bandung. De Gereformeerd Vereniging di Medan juga mengusulkan agar Pendeta yang berpindah-pindah tersebut ditempatkan di Medan. Mereka menawarkan gaji ƒ3500 per tahun. Dengan usulan itu, Bandung kalah. Sinode 1914 menetapkan panitia untuk meneliti hal itu dan dua anggota Gereformeerd Vereniging, yaitu P.A. Colijn dan J. Hogervorst berbicara dan berhasil meyakinkan panitia, bahwa Pendeta itu harus ditempatkan di Medan. Demikian juga diusulkan untuk mendewasakan gereja secepat mungkin dan ‘memanggil’ seorang Pendeta. Sinode 1917 juga memutuskan tentang subsidi. P.A. Colijn dan J. Hogervorst juga mengumpulkan dana ƒ8.000 untuk pembangunan gedung gereja.

 

Pembangunan Gedung Gereja

Pada tanggal 28 Februari 1917, Gereformeerde Vereniging memutuskan untuk membangun gedung gereja. Total anggarannya ƒ30.000, yang ƒ16.700 untuk gereja. P.A. Colijn dan J. Hogervorst membawa ƒ8.100 dari Belanda. Totalnya terkumpul ƒ15.910 sehingga gereja bisa dibangun tanpa hutang. Untuk pastori, gereja akan meminjam uang dengan bunga 6%. Langsung dirapat ada ƒ10.250 yang dipinjamkan. Sultan Deli pun menyumbangkan tanah yang luas senilai ƒ2.000, hal ini dapat terwujud dengan perantaraan gubernur. Banyak pemasok memasukkan barangnya dengan harga yang murah. P.A. Colijn menghitung bahwa harga sebenarnya bisa mencapai ƒ50.000. Arsitek T.J. Kuipers dari Belanda memberi gambar rencana. Satu hal yang sangat menarik adalah bahwa terwujudnya pembangunan gedung gereja ini merupakan kerja sama dan bantuan dari berbagai pihak terutama para petinggi.

Pada tanggal 26 Mei 1918 dilakukan pentahbisan gedung gereja. Pada saat itulah gedung gereja dipakai untuk pertama kalinya. Kendati belum memiliki jendela, lampu, organ, tempat baptisan dan lonceng, kebaktian peresmian tetap berjalan dengan hikmat.

P.A. Colijn menulis: “Mereka datang dari Timur dan Barat, dari Utara dan Selatan ke Medan, untuk tinggal sementara di antara orang yang sepemikiran. Bahkan untuk menghadiri acara tersebut ada yang perlu menempuh perjalanan satu hari melewati pohon karet dan kebun tembakau, dari padang minyak Aceh dan bahkan dari Danau Toba untuk merayakan hari Besar dalam kehidupan gerejawi ini”.

Gereja ini juga sempat digunakan oleh HKBP Uskup Agung Medan sebagai tempat ibadah mulai tahun 1919 hingga tanggal 28 Mei 1928.

sejarahgki2 Gambar 2. Gedung GKI Sumut Medan Tahun 1917

 

 

 sejarahgki1

Gambar 3. Gedung GKI Sumut Medan
(Foto Koleksi Arsip Nasional Tahun 1924)

Pendewasaan

Majelis Jemaat Batavia setuju Pendeta diaspora akan tinggal di Medan. Sebagai penghargaan, Majelis Jemaat Batavia memberikan sebuah Alkitab Terjemahan lama kepada kring di Medan. Kemudian Klasis Den Haag memberi izin pendewasan, dengan syarat bahwa penginstitusian ini tidak akan makan biaya dari Den Haag. Pada tanggal 12 Mei 1917 pelaksanaan pendewasaan dipimpin oleh Dr. H.A. van Andel.

Terpilih menjadi Ketua Majelis Jemaat pertama adalah R. Slotema dengan sekretaris Dr. A.A.L. Rutgers dan P.A. Colijn. Masing-masing dalam jabatan Penatua. Sedangkan sebagai Diaken adalah J. Hogervorst dan J.J. Meeuwse. Lima orang anggota Majelis Jemaat ini diteguhkan oleh Dr. H.A. van Andel pada hari Minggu bersamaan dengan pelaksanaan pelayanan Perjamuan Kudus. Pada Mei 1917 tercatat 130 anggota jemaat, yang terdiri dari 80 jemaat sidi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *