USIA INDAH

Spread the love

Kotbah Minggu : 17 Juni 2018 (Minggu Biasa)
Bacaan III : Markus 4:26-34 (Nas: Markus 4:27-29)
Tema : USIA INDAH

Pendahuluan: Kotbah dapat dimulai dengan pertanyaan: “Siapa yang tidak takut tua?”. Apakah kita memang takut menjadi tua? Jikapun takut, maka apa yang jemaat persiapkan untuk hari tua? Apakah asuransi jiwa dan mendaftar ke yayasan kedukaan? Bagaimana kita yang sedang mempersiapkan diri memasuki masa pensiun? Apakah kita kuatir tentang ketiadaan pemasukan, aktifitas atau karya kita yang sudah tidak diterima lagi? Sadarkah kita bahwa kehidupan kita hingga saat ini adalah karena Tuhan memelihara? Tentu saja Tuhan memelihara kehidupan kita agar kita dapat ikut memelihara kehidupan yang lainnya. Sampai masa tua, ada banyak hal yang dapat kita lakukan untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik.

Penjelasan Teks Leksionari:
Bacaan II: 2 Korintus 5:6-17. Tema bagian ini adalah bahwa kita adalah utusan-utusan Kristus. pasal ini dapat diringkaskan sbb: keyakinan Paulus mengenai tubuh kebangkitan orang-orang percaya (ay.1-5); beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan (ay.5-9); kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus (ay.10); bagaimana hal itu mempengaruhi kehidupan kita (ay.11-13); kita dikuasai oleh kasih Kristus (ay.14); Kristus telah mati untuk semua orang (ay.15-16); pembaharuan yang terbesar (ay.17). Dalam pasal ini Paulus lebih banyak memberi pengajaran tentang iman Kristen dibandingkan dengan pasal-pasal lain dalam surat ini. Baiklah kita memperhatikan bahwa roh dan jiwa yaitu bagian dalam kita, yang olehnya kita bersekutu dengan Allah, sering dipakai dalam arti yang sama di dalam Perjanjian Baru. Lagipula kita harus menolak ajaran (filsafat) yang mengatakan bahwa roh atau jiwa tidak dapat hidup di luar tubuh. Pasal ini memberikan gambaran tentang rasul Paulus sebagai utusan Kristus yang dalam kehidupan dan pekerjaannya senantiasa memandang hal-hal yang tak kelihatan yaitu yang kekal seperti dikatakan dalam ayat terakhir dari pasal 4.
Bacaan III: Markus 4:26-34. Bagian ini adalah tentang perumpamaan benih. Dalam perumpamaan ini Tuhan memberikan pengajaran tentang Kerajaan Allah. Ia memperlihatkan bagaimana Kerajaan itu itu bertumbuh dengan tersembunyi tetapi dengan pasti. Pertanyaannya sekarang adalah: “Apakah yang dimaksudkan dengan Kerajaan Allah?” Kerajaan Allah ialah orang-orang yang benar-benar Kristen dan yang sudah dilahirkan kembali. Perumpamaan ini mengatakan bahwa si penabur itu hanya dapat menaburkan benih. Sesudah itu ia tidur bangun saja sampai tiba waktunya untuk menuai. Si petani menyediakan tanah yang paling baik. Ia memberi tanah itu pupuk, menyirami dan mencabuti rumputnya. Bila padinya masak, ia memotong dan menuainya. Tetapi segala yang dilakukannya itu hanyalah perbuatan yang bersifat lahir. Ia tidak dapat berbuat apa-apa terhadap benih itu. Pertumbuhan benih itu harus diserahkan kepada hukum-hukum Allah dan hukum-hukum alam. Begitu pula halnya dengan penanaman benih rohani. Hanya Roh Allah yang dapat menegur hari orang serta membawa mereka kepada pertobatan. Tiap-tiap pekerja Tuhan hendaknya menyadari hal ini, supaya mereka hanya bersandar dan berharap kepada Tuhan saja bagi hasil pekerjaan mereka. Di sini kita dapati juga ajaran tentang hal kesabaran, pengajaran yang membangunkan hati untuk bertekun. Kita sering hanya ingin segera melihat hasil pekerjaan ita, tetapi sebagaimana seorang petani harus menunggu dengan sabar sampai padinya masa, kitapun harus dengan sabar menunggu hasil pekerjaan Roh Tuhan. Di dalam perumpamaan ini kita dapati juga suatu penghiburan. Kadang-kadang kita merasa bahwa pekerjaan kita tidak berhasil, bahwa doa dan usaha kita gagal, kita tidak mendapatkan tanda-tanda berkat atau hasil yang memuaskan. Akan tetapi mungkin ada suatu pekerjaan yang tersembunyi yang kemudian akan bertumbuh serta berhasil. Ayat 30-34 adalah tentang perumpamaan biji sesawi. Perumpamaan ini seringkali dipakai untuk mengajarkan bahwa sidang jemaat Kristus itu pada mulanya kecil sekali, tetapi kemudian menjadi besar, sehingga memenuhi dunia. Yang dimaksudkan di sini ialah semua orang yang menamakan dirinya Kristen, yaitu yang secara lahir menjadi Kristen dan juga yang percaya secara batin. Pendeknya semua penganut agama Kristen. Burung-burung yang berteduh di bawah daunnya menggambarkan kejahatan dan iblis dengan kaki tangannya yang mendapat perlindungan dari peraturan-peraturan keduniaan, yang memakai nama Kristen.
Tujuan Tema: Jemaat menghayati penyertaan Tuhan dalam sepanjang hidup mereka. Selanjutnya jemaat menghadirkan buah-buah hidup yang semakin jelas di tengah dunia.

Penerapan Tema: Apa penerapan Firman Tuhan ini kepada konteks kehidupan kita saat ini?
Jemaat yang muda hendaknya senantiasa menghormati dan menghargai mereka yang berusia lanjut. Belajarlah dari teladan dan pengalaman hidup mereka. Jemaat yang dewasa, hendaklah menghayati pemeliharaan Tuhan dalam segala tantangan yang ada, serta menyiapkan diri memasuki usia senja. Jemaat yang lanjut usia, hendaknya senantiasa bersyukur atas perjalanan hidup dan menemukan Tuhan di dalamnya serta berkomitmen dalam menjadi teladan (Berikan Illustrasi).
Ajakan kepada jemaat untuk terus bersedia berkarya bagi kehidupan (Tambahkan contoh-contoh praktisnya).
Salah satu ciri jemaat misioner (dalam arti yang mampu bersaksi kepada orang lain) adalah yang menghayati penyertaan Tuhan dalam sepanjang hidup mereka dan yang menghadirkan buah-buah hidup yang semakin jelas di tengah dunia.

 

—LL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *